Amarah

apiMalam itu, Kyai Zaid datang bertamu ke rumah seorang yang telah menjadi gurunya selama beberapa tahun. Dia selalu datang ke tempat itu, minimal satu kali dalam satu bulan; bahkan lebih jika dia menemukan kesulitan dalam berdakwah atau mengajar. Namun, tidak seperti guru lain tempatnya menimba berbagai ilmu, disini dia lebih banyak bercakap tentang kehidupan dan hati. Tidak ada kitab; hanya ada kopi dan pengganan kecil.

Malam itu, seperti malam lainnya, percakapan mengalir lancar. Zaid bercerita panjang lebar mengenai kegiatannya dalam berdakwah. Berbagai orang yang ditemui, berbagai tantangan yang harus dilampaui, dan bermacam godaan yang dia temui. “Entar dulu, Ji (singkatan untuk kata Haji)…” tiba-tiba sang guru memotong ceritanya, “Emang ente lagi marah sama siape?”.

Continue reading

Tanpa Takut

Tanpa Takut

“Saya belum pernah takut berhadapan dengan siapa pun” katanya jumawa. Dibekali dengan tampang yang maskulin, ditambah kesenangannya pada bela diri dan laku spiritual pada usia muda, jadilah dia tumbuh sebagai seorang yang amat pemberani. Dan beruntungnya, dia baik hati walaupun kadang agak kurang sabar dalam menghadapi sesuatu.

Hari itu, seperti biasa, dia bercerita ke Bang Jul, guru ngaji sederhana di kampung yang biasa mengajar anak-anak. Dan saat itu, tidak seperti biasa dia mengisahkan banyak cerita ketika dia harus bekerja di pedalaman Borneo, bertemu dengan banyak orang yang juga sakti. “Mao mata merah dengan rambut berdiri pun saya hadapi, urusan menang kalah urusan belakang” katanya menutup rangkaian cerita itu.

Continue reading

Lembut

Seorang sahabat bercerita bagaimana perjuangan kyai kampungnya ketika beliau baru kembali dari belajar. Beliau dapati kampungnya sudah berubah jauh. Di depan masjid, para wanita menanti pelanggan, tanpa malu, tanpa risih, hingga orang menggunakan masjid tersebut sebagai panduan arah jika hendak menjemput. Tak ingin diam dengan hal tersebut, tiap malam selesai Isya beliau mengaji di depan masjid, membaca kitab dan seterusnya. Tak ada kata atau kalimat keras, tak ada teguran, tak ada kritikan. Hanya itu yang beliau yang lakukan tiap malam, dari selesai Isya sampai jauh tengah malam, dari hari berganti bulan. Dari yang tidak pernah di lirik sampai akhirnya mereka mulai menyadari ada orang yang mengaji. Dari mulai tak peduli sampai akhirnya risih sendiri. Perlahan, mereka yang terpaksa menjajakan diri itu menghilang dari depan masjid, para jamaah yang hendak berbenah diri mulai berganti datang.
Continue reading

Wallis Simpson – The Woman He Loved

Wallis Simpson terlahir dengan nama Bessie Wallis Warfield pada 19 Juni 1896 di Blue Rigde Summit, Pennsylvania. Ayahnya Wallis Warfield meninggal saat dia masih bayi karena TBC dan dia bersama ibunya hidup dengan menggantungkan diri dari kemurahan hati pamannya.

Pada tahun 1916, Wallis bertemu dengan Earl Winfield Spencer Jr., seorang pilot Angkatan Laut Amerika. Pasangan tersebut menikah enam bulan kemudian. Namun pernikahan tersebut tidak bertahan lama karena sifat sang suami yang pemabuk. Pasangan tersebut bercerai pada tahun 1927. Wallis kemudian menikah dengan Ernest Aldrich Simpson, seorang eksekutif pelayaran Inggris-Amerika. Mereka menikah di London dan kemudain menempati sebuah apartemen besar dengan beberapa orang pembantu.

Continue reading

Tanah

—–Tanah—–

“Saya bingung Ustadz” kata Aman teman kami kepada guru ngaji kami, “saya sudah berusaha menjual tanah ini ke banyak pihak, tak satu pun yang tertarik. Saya bingung karena tanah ini sebenarnya letaknya bagus, ukurannya ideal, dan surat menyurat beres. Tapi kenapa nga ada yang mau ya?”
“Ente ngomongin tanah yang di jalan A ya?” guru ngaji kami merespon.
“Iya. Tanah dan bangunan di sekitarnya udah pada laku, tinggal tanah ini aja yang belum laku. Masalahnya, buat ngebebasin tanah ini aja, ane ngutang dulu. Udah mao jatoh tempo lagi.”
“Kenapa nga ente aja yang ambil? Kagak ade duit?”
“Ade sih, tapi mepet banget. Modal abis semua kalo saya yang beli. Sedangkan tanah khan Bang ustadz tau sendiri, susah lakunye”.
“Istikharah aja deh. Mohon kepada Allah gimana solusinya.” tutup guru ngaji kami petang itu.

Sebulan kemudian si Aman datang ke pengajian dengan muka cerah. Lantas dia bercerita, setelah istikharah, akhirnya dia putuskan membeli sendiri tanah tersebut karena petimbangan membayar hutang yang sudah jatuh tempo. Transaksi terjadi dan dia pusing karena modalnya habis. Seminggu kemudian, ketika dia menceritakan kisah ini kepada seorang sahabat lamanya, sang sahabat secara tidak terduga tertarik dengan tanah tersebut dan langsung menawar dengan harga yang lebih tinggi. Ternyata sang sahabat sudah menaksir tanah tersebut sejak satu tahun yang lalu tapi kemudian terlupakan karena belum ada rejekinya. Seminggu kemudian transaksi rampung, modalnya kembali utuh dan dia mendapatkan keuntungan. Mendengar ceritanya, semua mengucapkan hamdalah untuk transaksi tersebut dan juga untuk hidangan yang dia hadirkan bagi para jamaah pengajian.

“Kadang” kata ustadz guru ngaji kami, “Allah itu memberitahukan kehendak-Nya atas diri kita lewat peristiwa, isyarat, serta lisan orang lain yang kita temui, lihat, dan dengar. Masalahnya, kita seringkali kesulitan menangkap sinyal tersebut karena terhalang oleh nafsu sendiri sehingga butuh waktu lama atau sama sekali tidak menangkap isyarat demi isyarat tersebut.”

Nanti juga berlalu

Nanti juga berlalu

Seorang murid Zen mengadu kepada gurunya, “Meditasi saya buruk. Saya begitu mudah teralihkan atau saya merasa nyeri di kaki atau tertidur ketika meditasi. Pokoknya, buruk”.

“Nanti juga berlalu” kata sang guru santai.

Seminggu kemudian, murid yang sama mendatangi sang guru dan berkata dengan gembira, “Meditasi saya luar biasa. Saya merasa terbangkitkan, damai, dan demikian hidup. Pokoknya, luar biasa.”

Dan sang guru kembali menjawab dengan santai, “Nanti juga akan berlalu.”

Disadur dari: http://spiritualinquiry.com/zen-stories/it-will-pass/

Intan Ditengah Lumpur

ntan di tengah Lumpur

Dalam perjalanan menuju Edo, pusat pemerintahan Shogun, Gudo sang Guru Besar ditimpa hujan yang amat deras. Pakaiannya kuyup, sandal jeraminya tak lagi berbentuk. Dan ketika sampai di sebuah dusun bernama Tekanaka, dia melihat beberapa pasang sandal kering di jendela sebuah rumah. Maka, kesanalah dia menuju dengan niat membeli sepasang sandal agar dapat meneruskan perjalanan.

Seorang wanita membuka pintu yang diketuknya. Lebih dari sekadar mengabulkan permintaan Gudo, wanita tersebut iba melihat kondisi Gudo yang kuyup. Dia kemudian mempersilahkan Gudo masuk untuk menginap di rumahnya hingga pagi keesokan harinya dan menjamunya. Wanita tersebut kemudian memperkenalkan Gudo kepada Ibu dan anaknya.

Continue reading